Sabtu, 11 Oktober 2014

Dear kamu!

Dear suamiku kelak,

Saya tiba-tiba ingin menulis surat untuk kamu. Seberapa lama lagi, kamu datang menghamipiri saya dan menjemput saya? Ohh mungkin, ketika studi saya selesai atau disela-sela studi saya berikutnya atau bisa juga disela-sela saya meniti karir entahlah dengan cara apa kamu datang kelak. Yang perlu kamu tau hanya saya sudah tidak sabar bertemu dengan kamu.  Nanti kalau pernikahan kita, biarkan papah saja ya yang menjabat tangan kamu langsung. Karena itu mimpi saya, biarkan papah yang langsung menyerahkan anak perempuan satu-satunya ini kepada seseorang yang baginya yang terbaik dan bisa menjaga putri kesayangannya ini. Saya menangis menulis paragraph ini, tentu saja kamu tau betapa sayangnya saya dengan papah saya. Jadi biarkan sampai nanti, saya tetap menjaga papah dan mamah karena mereka adalah harta di dunia ini bagi saya.

Oiya jangan khawatir ketika saya berkarir nanti sayang, karena kamu dan anak-anak kita tetap menjadi nomer satu bagi saya. Kelak saya akan menjadi seorang psikolog sayang, yang akan menerima semua curahan hati klien-klien sayang. Tentu saja saya tidak akan mencampur adukkan urusan klien dan keluarga kita. Nanti kelak bisa saja saya bekerja di rumah, tapi tenang saya akan membedakan waktu keluarga kita dan jadwal saya harus bekerja. Tentu saja saya akan selalu mengutamakan kamu dan anak-anak kita. Kenapa? Karena saya pernah merasakan, betapa sedihnya ketika saya hanya bisa bertemu dengan mamah waktu sore setelah mamah dari kantor. Saya pernah merasakan itu, betapa saya merasa dicampakkan, saya merasa tidak ada yang mendengar cerita saya. Saya sudah berjanji dan mengatakan bahwa kelak anak-anak kita akan selalu bisa bercerita dengan saya dan kamu tentang bagaimana harinya, bagaimana sekolahnya, bagaimana teman-temannya semuanya yang ingin anak-anak kita ceritakan dan kita akan selalu ada untuk mereka. Saya tidak ingin anak-anak kita merasa memendam semuanya sendiri, hingga bisa saja semuanya pecah begitu saja. Kelak mungkin bisa saja saya jenuh dengan pekerjaan menumpuk, dengan koreksian, skoring dan lain-lain. Sayang, tetaplah memeluk saya dan membuat saya kembali bersemangat ya sayang. Karena saya tau, kamu tidak akan membiarkan istrimu kelelahan dan sedih. Saya tau kamu akan selalu ada dan memeluk saya sebagai obat yang ampuh untuk saya.

Sayang, nanti kalau kamu pulang kantor setelah berjam-jam di kantor mengurus ini-itu saya sudah menanti dengan teh hangat dan cookies buatan saya. Kamu taukan saya suka memasak dari sekarang, supaya kelak jika kita sudah bersama saya dapat memastikan kamu dan anak-anak kita kenyang dan selalu kangen masakkan ibunya. Iya saya ingin sekali dipanggil ‘’Ibu’’ biarin dibilang gak gaul, karena menurut dosen saya panggilan untuk orangtua dari anak-anak akan mempengaruhi psikologis dia. Jadi kamu ingin dipanggil apa? Bapak atau Ayah?

Saya tidak ingin anak-anak kita terlalu manja. Kelak anak-anak kita harus belajar dari kecil apa artinya ‘kecewa’? Agar mereka bisa kuat dan memiliki problem sovling yang baik. Kelak juga, anak-anak kita harus tau bagaimana berjuang untuk mendapatkan sesuatu? Tentang bagaimana anak-anak kita beradaptasi di sosialisasi primer dan sekunder. Ohh saya sudah terlalu banyak bicara ya sayang.

Saya akan membuat lingkungan kita nyaman untuk kamu, saya, dan anak-anak kita karena kamu tau sayang lingkungan mempengaruhi perilaku individunya. Itu sebabnya saya ingin membuat lingkungan kita dan anak-anak kita nyaman. Ah… betapa saya sudah tidak sabar ingin membuat istana bersama kamu dan anak-anak kita. Istana sederhana yang dipenuhi bunga seperti mimpi saya. Jadi sepertinya sudah cukup surat panjang ini ya sayang, maafkan kecerewetan calon istrimu ini.

Berjanjilah kepada saya, bagaimanapun saya kelak. Berjanjilah tidak pernah lelah sampai kita menua kelak. Berjanjilah selalu memeluk saya setiap hari, berjanjilah akan selalu ada merangkai mimpi-mimpi kita bersama.

Dari yang menunggumu,


Meisza Adilla Herssy

Sabtu, 20 September 2014

Untuk Jarak

Hati saya beberapa hari ini kalut sekali, saya hanya memilih diam di kamar dan entahlah itu. Bersujud kepada yang mempunyai hati saya. 
Rasanya baru kemarin saya merasakan hangat pelukan itu.
Rasanya baru kemarin saya mengenggam tangannya erat. 
Ada sesuatu yang sangat amat membuat saya ketakutan ada sesuatu yang mengganjal hati saya. 
Saya takut semua yang pernah terjadi juga akan berakhir seperti itu, datang dan hilang tiba-tiba. Tidak-tidak saya tidak pandai menuntut, apalagi menuntut hati seseorang. 
Saya hanyalah perempuan biasa. 
Saya tidak menyukai menuntut seseorang. 
Saya hanya takut yang saya takutkan terjadi, ada trauma yang entah ada di hati saya apa tidak. 
Saya hanya ingin apa yang saya rasakan tidak benar, saya hanya ingin semua tentang kita baik-baik saja. 
Saya ingin meyakinkan hati saya, bahwa 'kita' memang benar-benar ada.
Saya hanya ingin, kamu mengingat senyum saya dengan baik. Sesederhana itu.

Semoga kamu membaca surat kecil ini :')